Pawai Ogoh-ogoh 2010

Posted: Maret 15, 2010 in Cerita selama hamil...
Tag:,

Hari Senin, tgl 15 Maret 2010, di Mataram Lombok ada kemeriahan luar biasa menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1932. Sebagaimana biasa, acara tahunan yang sama juga terjadi di Bali, kali ini umat Hindu di Lombok berkumpul di depan Mall Mataram, untuk mengikuti pawai ogoh-ogoh. Kabarnya, Pawai Ogoh-ogoh tahun ini diikuti oleh peserta yang cukup banyak, sampe2 mo masuk ke MURI sebagai pawai ogoh-ogoh dengan peserta terbanyak. Rutenya, gak panjang sih. Cuman dari Depan Mall Mataram sampe Perempatan Cakra. Mungkin kurang lebih 800 meteran lah jaraknya. Tapi karena yang diusung ogoh-ogohnya besar n berat, ditambah lagi cuaca yang sangat panas banget, jarak itu terasa jauh.

Banyak anak2 muda mewakili banjar (pemangkuan adat setingkat kelurahan) masing2 yang ikut pawai, bahkan anak2 kecil yg lucu2 jg bawa ogoh-ogoh yang berukuran kecil n imut. Aku pun penuh semangat pengen ikut nonton pawai ini. Toh, acara ini kan setaun sekali, jarang2 kita bisa dapat kesempatan buat nonton, meski kondisi badan mulai berat n cuaca panas, aku ditemenin ama 4 rekan kantor laen, rame2 nonton acara ini. (Maaf bos, kita agak lamaan balik kantor). Hehehe….

Sekilas cerita mengenai ogoh-ogoh ini, dari beberapa referensi yang aku baca (cieeh!) mengenai ogoh-ogoh seperti berikut:

Dalam kepercayaan Hindu Dharma, “ogoh-ogoh” adalah karya seni patung dalam kebudayaan Bali yang menggambarkan kepribadian Bhuta Kala itu, yang merepresentasikan kekuatan (Bhu) alam semesta dan waktu (Kala) yang tak terukur dan tak terbantahkan.

Pada tahun ini, Hari Suci Nyepi akan tiba pada 16 Maret besok, sebagai tanda Tahun Baru Saka 1932 dimulai. Layaknya perayaan agama yang bersisian dengan keriaan penganutnya, maka umat Hindhu Dharma juga bersuka-ria menyambut kehadiran tahun baru itu dibarengi dengan perenungan tentang yang telah terjadi dan dilakukan selama ini. Menjelang Hari Suci Penyepian, peristiwa dan prosesinya nyaris mirip dari tahun ke tahun, yaitu tiap banjar (pemangkuan adat setingkat kelurahan) di Bali berlomba-lomba membuat “ogoh-ogoh” sebaik dan semenarik mungkin. Kalau bisa lebih berseni, rumit, dan lebih mutakhir, maka “ogoh-ogoh” itu diharapkan bisa menaikkan martabat banjar yang membuatnya.

Demikianlah, “ogoh-ogoh” menjadi satu ikon ritual yang sangat penting dalam ritual perayaan Nyepi. Dia akan diarak ke berbagai penjuru banjar, kota, dan bahkan kawasan, sebagai perlambang kehadiran alias personifikasi pribadi Sang Bhuta Kala dalam alam mayapada ini.
Secara penampakannya, perwujudan patung Bhuta Kala itu sering digambarkan sebagai sosok yang besar dan menakutkan, biasanya dalam wujud “rakshasa” alias raksasa. Selain wujud itu, “ogoh-ogoh” sering pula digambarkan sebagai makhluk-makhluk yang hidup di mayapada, surga dan neraka, di antaranya naga, gajah, garuda, widyadari, bahkan dewa.Namun, tidak selamanya raksasa berwujud seperti itu. Beberapa orang lahir dengan tubuh dan rupa manusia namun memiliki jiwa jahat selayaknya rakshasa, seperti di antaranya Kamsa, Duryudana, Dursasana, Jarasanda, Sisupala, yang semuanya adalah tokoh dalam kisah Mahabharata.

Memang seolah manusia Bali itu diciptakan Tuhan Yang Maha Esa dengan kreativitas seni sangat prima, maka pada masa kini “ogoh-ogoh” itu dikembangkan dan dielaborasikan dalam rupa dan konteks peristiwa aktual masa kini. Tidak heran jika kemudian Michael Jackson, raksasa seram menunggangi motor besar Harley-Davidson, dan bahkan teroris juga dijadikan “ogoh-ogoh”.

Dalam fungsi utamanya, “ogoh-ogoh” sebagai representasi Bhuta Kala, dibuat menjelang Hari Nyepi dan diarak beramai-ramai keliling desa pada senja hari “pengerupukan”, yaitu sehari sebelum Hari Suci Penyepian. Menurut para cendekiawan dan praktisi Hindu Dharma, proses ini melambangkan keinsyafan manusia akan kekuatan alam semesta dan waktu yang maha dashyat.

Kembali ke ceritaku tadi, karena kita bawa kendaraan roda empat, n untuk mencegah terkena macet, sengaja kita berangkat awal, yaitu pas jam istirahat siang. Sekaligus makan siang (Pak herry emang Te O Pe Be Ge Te kalo diajak jalan2. Makasih ya pak… hehehe). Kelar makan siang, kita cari jalan tikus untuk nembus ke rute yang dilewati pawai. Setelah dapat tempat parkir paling depan (yang karena posisi itu akhirnya menjebak kita untuk tertahan di tempat itu sampe pawai usai), kita nonton Pawai sambil panas2an. Hehehe…

Untungnya, pipit pinter ngrayu anak kecil yg bawa payung untuk kita tebengin, so alhasil kita sepayung berlima (rame2 n nylempit2 krn yang punya musti diprioritasin). Rencana mo balik kantor jam 2an, tertunda, krn mobil kita gak bisa kemana2 (mundur gak bisa, apalg mo maju motong barisan pawai. Hiks… Terpaksa kita musti nungguin pawai usai krn cuman waktu itu aja kita bisa jalan pulang.

Ini gambar yang kita sempet ambil pas nonton pawai ogoh-ogoh tadi siang. Hehehe….

Semangat ambil Gambar di emperan atm bank

Semangat ambil Gambar di emperan ATM bank

Ogoh-ogoh (01)

Ogoh-ogoh (01)

Kompakan usung ogoh-ogoh sampe finish ya...

Kompakan usung ogoh-ogoh sampe finish ya...

Nampang dulu di depan ogoh-ogoh

Nampang dulu di depan ogoh-ogoh

Anak-anak kecil pun gak mau kalah

Anak-anak kecil pun gak mau kalah semangat

Ada yg motret, ada yg 3G-an, ada yg muncis, ada yg narsis...

Ada yg motret, ada yg 3G-an, ada yg muncis, ada yg narsis...

Iklan
Komentar
  1. dgfrtyh berkata:

    jelek semua ogoh ogohnya

    • laofam berkata:

      ya, mau jelek atau bagus kan relatif. yang penting kan kita menghargai hasil kreativitas anak2 muda di Lombok yang ikut serta di acara ini. toh acaranya cuman sekali dalam setahun. itung2 hiburan jg buat yg nonton… ;p

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s