Prosesi Pernikahan (episode -2)

Posted: Desember 12, 2009 in And now I pronounce you as husband and wife

Kurang lebih pukul 10.30 kami sampai di rumah, aku dan suami langsung dimake over untuk berganti kostum. Dengan menggunakan pakaian adat Jawa Basahan Solo bernuansa hijau kami segera melaksanakan prosesi adat pernikahan Jawa di rumah. Sekitar pukul 11.00 wib, prosesi dimulai dengan adat temu di pintu rumah. Kembar mayang yang udah disiapin sehari sebelumnya dibawa oleh sepasang remaja perempuan dan sepasang remaja laki-laki yang masih lajang. Kembar mayang yang dibawa oleh pihak perempuan (dipegang para gadis) ditukar dengan kembar mayang yang dipegang oleh pihak laki-laki (para bujang).

Kalo menurut tradisi Jawa yang lengkap, kembar mayang ini adalah karang bunga yang terdiri dari daun-daun pohon kelapa yang ditancapkan ke sebatang tanggul kelapa. Dekorasi ini memiliki makna yang luas:

  • Berbentuk seperti gunung, tinggi dan luas, melambangkan seorang laki-laki harus berpengetahuan luas, berpengalaman, dan sabar.Hiasan menyerupai keris, pasangan harus berhati-hati di dalam hidup mereka.
  • Hiasan menyerupai cemeti, pasangan harus selalu berpikir positif dengan harapan untuk hidup bahagia.
  • Hiasan menyerupai payung, pasangan harus melindungi keluarga mereka.
  • Hiasan menyerupai belalang, pasangan harus tangkas, berpikir cepat dan mengambil keputusan untuk keselamatan keluarga mereka.
  • Hiasan menyerupai burung, pasangan harus memiliki tujuan hidup yang tinggi.
  • Daun beringin, pasangan harus selalu melindungi keluarga mereka dan orang lain.
  • Daun kruton, melindungi pasangan pengantin dari roh-roh jahat.
  • Daun dadap serep, daun ini dapat menjadi obat turun panas, menandakan pasangan harus selalu berpikiran jernih dan tenang dalam menghadapi segala permasalahan (menenangkan perasaan dan mendinginkan kepala).
  • Bunga Patra Manggala, digunakan untuk mempercantik hiasan kembar mayang.

pihak mempelai laki-laki menjelang temu

pihak mempelai perempuan menjelang temu

Prosesi berikutnya adalah Balang-balangan Suruh. Suamiku berdiri di pintu gerbang dengan jarak sekitar tiga meter dari aku.  Dibekali beras kuning, daun sirih dan daun jeruk, kami melakukan prosesi saling lempar. Kebetulan masku yang bukan orang Jawa kurang paham kalo musti lakuin tradisi ini, udah keduluan aku yang lempar duluan. Katanya prosesi ini bermaksna bahwa kami adalah manusia, bukan makhluk jadi-jadian yang menyamar jadi pengantin. Selain itu ritual ini juga melambangkan cinta kasih dan kesetiaan.

sembah sungkem pada suami

wiji dadi

Prosesi selanjutnya adalah Wiji Dadi, di mana Mempelai laki-laki menginjak telur ayam hingga pecah dengan kaki kanan, kemudian pengantin perempuan akan membasuh kaki sang suami dengan air bunga. Proses ini melambangkan seorang suami dan ayah yang bertanggung jawab terhadap keluarganya dan istri yang taat melayani suaminya.

tanda cinta dan bakti pada suami

nah, kalo yang ini kayaknya simbol dr ikatan dua mempelai

sindur binayan

sindur binayang

sindur binayan

Selesai membasuh kaki suami, acara dilanjutkan dengan Sindur Binayang Di dalam ritual ini bapak menuntun kami ke kursi pelaminan, sedangkan ibu menyampirkan kain sindur sebagai tanda bahwa  bapak menunjukkan jalan menuju kebahagiaan dan ibu memberikan dukungan moral.

timbang/pangkon

Timbang / Pangkon Di dalam ritual ini, kami duduk di pangkuan bapak (dalam hal ini pelaksanaan prosesi dilakukan oleh pihak pengantin perempuan) , dan ketika Pranatacara (MC) nanya pada bapak, “Berat mana pak?”,  Bapak akan berkata bahwa berat kami sama, berarti bahwa cinta kami sama-sama kuat dan juga sebagai tanda kasih sayang orang tua terhadap anak dan menantu sama besarnya. Lucunya pas ritual ini, karena suamiku badannya besar, otomatis bapak kayak kegencet di belakangnya. Makanya di foto samping ini muka bapak gak segitu keliatan kejepret. Wakakakak….

tanem

tanem

Tanem Di dalam ritual ini, bapak mendudukkan kami di kursi pengantin sebagai tanda merestui pernikahan kami dan memberikan berkat.

kacar-kucur

Kacar-kucur / Tampa Kaya / Tandur Dalam ritual ini, Masku sebagai Suami akan menuangkan kacang kedelai, kacang tanah, beras, jagung, beras ketan, bunga dan uang logam (jumlahnya harus genap) ke pangkuanku sebagai sebagai seorang istri sebagai simbol pemberian nafkah. Kemudian, Pengantin perempuan yang menerima hadiah ini membungkus kain putih yang ada di pangkuan sebagai simbol istri yang baik dan peduli. (Ciiiieeeeehhh) hehehe…

Dahar Kembul / Dahar Walimah

Dahar Kembul / Dahar Walimah

Kalo ritual yang satu ini emang yang paling ditunggu-tunggu dari acara2 sebelumnya, yaitu Dahar Kembul / Dahar Walimah di mana Kedua pengantin saling menyuapi nasi satu sama lain yang melambangkan kedua mempelai akan hidup bersama dalam susah dan senang dan saling menikmati milik mereka bersama. Pemaes akan memberikan sebuah piring kepada pengantin (berisi nasi kuning, telur, kedelai, tempe, abon, dan ayam).

minum....

Pertama-tama, suamiku menyuapi aku dengan sesendok nasi kuning dan lauknnya. Setelah itu ganti aku yang menyuapi suamiku kemudian kami saling makan masing-masing. Setelah makan, dilanjutkan dengan minum secangkir air putih. (Lho? kok air putih? nah ini aku yg kurang paham apa yg seharusnya diminum. Pokoknya lumayan lah buat ngobatin haus. hehehe).

Tumplak Punjen anak pertama

Tumplak Punjen untuk anak kedua

Kalo prosesi yang selanjutnya mungkin tiap keluarga yang melakukan prosesi pernikahan menggunakan adat Jawa lengkap hanya akan terjadi sekali saja dalam setiap pelaksanaan pernikahan.

Tumplak Punjen untuk anak ketiga

Prosesi ini bernama Tumplak Punjen yakni Acara awal untuk anak bungsu. Artinya segala kekayaan ditumpahkan karena menantu yang terakhir. Dalam acara ini, ortuku memberikan “sangu” sebagai bekal untuk hidup berumah tangga masing2 anaknya kelak. Sangu ini hanya sebagai simbol aja. Aku udah nyiapin tiga kotak kecil untuk bisa digunakan dalam ritual Tumplak Punjen ini.

sungkeman

sungkeman

Sungkeman Kedua pengantin bersujud memohon restu dari masing-masing orang tua. Pertama-tama ayah dan ibu pengantin perempuan, kemudian baru ayah dan ibu pengantin pria. Selama sungkeman, Pemaes mengambil keris dari pengantin pria, dan setelah sungkeman baru dikembalikan lagi.

Resepsi Setelah semua upacara selesai dilakukan, saatnya untuk resepsi pernikahan dan para tamu mulai makan makanan dan minum makanan yang udah disajikan di meja makan dengan disertai alunan musik gamelan. Acara foto-foto dan salam-salaman dengan kedua pengantin juga dilangsungkan. Sebagian besar tamu emang berasal dari temen2 ortu. Temen2ku kebanyakan berada di luar kota, makanya gak bisa hadir. Belom lagi karena pelaksanaan acara berbarengan ama musim tes cpns di prop. Jatim. But, it’s ok… Yang penting minta doa restunya, supaya rumah tangga yang kami bangun ini berjalan dengan harmonis dan langgeng hingga maut memisahkan.

Iklan
Komentar
  1. nessiwidia berkata:

    terimakasih,tulisan ini membantu saayaa 🙂

  2. nessiwidia berkata:

    terimakasih,tulisan ini membantu saayaa untuk mengerjakan tugas budaya 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s